Surabaya ya Rujak Cingur
Ini hanya ilmu otak-atik gathuk. Kenapa Surabaya sampai sekarang menjadi kota teraman dan secara politik terstabil? Ini karena warganya menyukai rujak uleg. Lho? Betul. Sebab, rujak uleg itu makanan yang unik. Tidak hanya khas Surabaya. Tapi juga mencerminkan susunan sosiologis masyarakat kota pahlawan ini. Pingin selalu beda, namun gampang bercampur. Bermacam-macam isinya, namun susah diduplikasi.

Di Jawa Timur sangat terkenal sambal pecel. Orang Madiun selalu mengklaim pecel asli itu ya pecel Madiun. Lainnya tidak terasa pecel. Bos Jawa Pos Pak Dahlan Iskan selalu membanggakan ini. Namun, yang ekspor dan membuat industri sambal pecel adalah orang Blitar. Karena itu, identifikasi sambal pecel dengan suatu daerah agak sulit untuk dilakukan.
Jika sambal pecel gampang dimasifikasi atau diproduksi secara massal, rujag uleg rasanya tidak akan bisa. Ia harus menjadi produk kerajinan tangan. Ia harus disajikan secara customize, orang per orang. Menyesuaikan dengan selera konsumennya. Ada yang suka cabe satu, dua dan tiga. Tidak pernah ada orang pesan rujak uleg dengan cara gradakan atau asal-asalan.
Karena itu, kita bisa dengan gampang mengklaim kalau rujag uleg itu betul-betul makanan khas Surabaya. Statusnya kurang lebih sama dengan semanggi. Malah orang sering menyanyikan dengan sebutan semanggi Surabaya. Padahal, kalau ngomong semanggi ya hanya ada di Surabaya. Tidak akan ada di Jakarta, Jogjakarta, Semarang atau sebagainya.
Lantas apa hubungannya dengan stabilitas dan keamanan? Sebagai makanan khas Surabaya, cobalah lihat isinya. Rujak uleg itu merupakan makanan dengan beragam isi. Ada sayuran dan buah-buahan. Jenisnya juga bisa diperkaya. Tentu, yang sudah pasti adalah cingur sapi. Cingur itu dalam bahasa Jawa disebut congor. Bahasa Indonesianya mulut. Tepatnya daging mulut sapi.
Makanya, almarhum Asmuni –pelawak Srimulat asal Jombang—perlu membuat plesetan warung makannya. Ia beri nama warung yang terletak di Jalan Raya Jombang itu dengan Warung Rujak ‘’Cingure’’ Asmuni. Tidak ada jenis makanan lain yang secara specifik menjadikan bahannya sebagai nama seperti rujak cingur.
Ini merefleksikan kenyataan sosial warga Surabaya. Beragam bahan rujak uleg itu menunjukkan karakter terbukanya kota ini. Semua etnis dan golongan bercampur di kota ini. Mereka dengan gampang bisa saling berasimilasi. Keberagaman tidak menyebabkan rasa getir, tapi justru menjadi sedap seperti rasa rujak uleg, eh…cingur.
Untuk menjadikan makanan yang sedap, tidak cukup hanya dicampur. Namun, perlu ada ikhtiar yang disebut dengan nguleg. Bumbunya dihaluskan dalam cobek. Akan beda rasanya kalau bumbu dihaluskan dengan mesin di luar cobek. Resapan rasanya akan berkurang. Penjual rujak uleg tidak hanya mencampur bahan, tapi meramunya.
Orang Surabaya jagoan dalam hal ini. Berbagai hal diramu menjadi sesuatu yang berarti. Lihat saja langkah mereka ketika mengolah sampah. Mereka bisa berbauat apa saja. Agar program pemilahan sampah di tingkat keluarga menjadi sesuatu yang menarik minat banyak orang. Segala hal diramu untuk menjadi sesuatu. Yang getir dan yang hambar diolah menjadi enak dicicipi.
Kenapa cingur? Ini yang saya belum menemukan otak-atik gathuknya. Namun, secara sederhana bahwa manusia itu sangat ditentukan oleh olah cingurnya. Jika mereka bisa mengendalikan, maka akan baiklah mereka. Kalau kelepasan, akan celaka juga. Warga Surabaya menjadikan cingur sebagai bagian dari makanan. Karena itu harus dikendalikan.
Ah, masak demikian? Namanya saja ilmu otak-atik. Yang pasti, arek Surabaya memang jagoan meramu sesuatu yang beragam. Juga pintar mengolah keterbukaan. Ini yang membuat kota ini stabil dan aman. Yang juga terang, Festival Rujak Surabaya terus berkembang. Makin hari makin banyak pesertanya. Kita bisa bertepuk dada: Ini betul-betul makanan khas Surabaya.
[Sumber: Arif Affandi - wakil walikota soroboyo -]

Di Jawa Timur sangat terkenal sambal pecel. Orang Madiun selalu mengklaim pecel asli itu ya pecel Madiun. Lainnya tidak terasa pecel. Bos Jawa Pos Pak Dahlan Iskan selalu membanggakan ini. Namun, yang ekspor dan membuat industri sambal pecel adalah orang Blitar. Karena itu, identifikasi sambal pecel dengan suatu daerah agak sulit untuk dilakukan.
Jika sambal pecel gampang dimasifikasi atau diproduksi secara massal, rujag uleg rasanya tidak akan bisa. Ia harus menjadi produk kerajinan tangan. Ia harus disajikan secara customize, orang per orang. Menyesuaikan dengan selera konsumennya. Ada yang suka cabe satu, dua dan tiga. Tidak pernah ada orang pesan rujak uleg dengan cara gradakan atau asal-asalan.
Karena itu, kita bisa dengan gampang mengklaim kalau rujag uleg itu betul-betul makanan khas Surabaya. Statusnya kurang lebih sama dengan semanggi. Malah orang sering menyanyikan dengan sebutan semanggi Surabaya. Padahal, kalau ngomong semanggi ya hanya ada di Surabaya. Tidak akan ada di Jakarta, Jogjakarta, Semarang atau sebagainya.
Lantas apa hubungannya dengan stabilitas dan keamanan? Sebagai makanan khas Surabaya, cobalah lihat isinya. Rujak uleg itu merupakan makanan dengan beragam isi. Ada sayuran dan buah-buahan. Jenisnya juga bisa diperkaya. Tentu, yang sudah pasti adalah cingur sapi. Cingur itu dalam bahasa Jawa disebut congor. Bahasa Indonesianya mulut. Tepatnya daging mulut sapi.
Makanya, almarhum Asmuni –pelawak Srimulat asal Jombang—perlu membuat plesetan warung makannya. Ia beri nama warung yang terletak di Jalan Raya Jombang itu dengan Warung Rujak ‘’Cingure’’ Asmuni. Tidak ada jenis makanan lain yang secara specifik menjadikan bahannya sebagai nama seperti rujak cingur.
Ini merefleksikan kenyataan sosial warga Surabaya. Beragam bahan rujak uleg itu menunjukkan karakter terbukanya kota ini. Semua etnis dan golongan bercampur di kota ini. Mereka dengan gampang bisa saling berasimilasi. Keberagaman tidak menyebabkan rasa getir, tapi justru menjadi sedap seperti rasa rujak uleg, eh…cingur.
Untuk menjadikan makanan yang sedap, tidak cukup hanya dicampur. Namun, perlu ada ikhtiar yang disebut dengan nguleg. Bumbunya dihaluskan dalam cobek. Akan beda rasanya kalau bumbu dihaluskan dengan mesin di luar cobek. Resapan rasanya akan berkurang. Penjual rujak uleg tidak hanya mencampur bahan, tapi meramunya.
Orang Surabaya jagoan dalam hal ini. Berbagai hal diramu menjadi sesuatu yang berarti. Lihat saja langkah mereka ketika mengolah sampah. Mereka bisa berbauat apa saja. Agar program pemilahan sampah di tingkat keluarga menjadi sesuatu yang menarik minat banyak orang. Segala hal diramu untuk menjadi sesuatu. Yang getir dan yang hambar diolah menjadi enak dicicipi.
Kenapa cingur? Ini yang saya belum menemukan otak-atik gathuknya. Namun, secara sederhana bahwa manusia itu sangat ditentukan oleh olah cingurnya. Jika mereka bisa mengendalikan, maka akan baiklah mereka. Kalau kelepasan, akan celaka juga. Warga Surabaya menjadikan cingur sebagai bagian dari makanan. Karena itu harus dikendalikan.
Ah, masak demikian? Namanya saja ilmu otak-atik. Yang pasti, arek Surabaya memang jagoan meramu sesuatu yang beragam. Juga pintar mengolah keterbukaan. Ini yang membuat kota ini stabil dan aman. Yang juga terang, Festival Rujak Surabaya terus berkembang. Makin hari makin banyak pesertanya. Kita bisa bertepuk dada: Ini betul-betul makanan khas Surabaya.
[Sumber: Arif Affandi - wakil walikota soroboyo -]
0 Responses to "Surabaya ya Rujak Cingur"
Poskan Komentar